Kusen PhD : Sebagian Pengurus Muhammadiyah Gagal Mendudukan Agama dan Budaya,

Kamis, Desember 3rd 2020. | Headline, Nasional

 

Suronews, Jakarta – Era digital memberikan warna baru bagi generasi saat ini. Pasalnya dengan digital dunia dalam genggaman, namun justru di era digital masih ada yang belum menguasainya atau masih ketinggalan zaman. Melirik era digital ibarat dua mata pisau, satu sisi memberi manfaat sisi lain mudarat. Kembali kepada penggunanya dalam menggunakannya. Insya Allah bila positif penggunaanya maka positif pula input buat si pengguna.

Pasalnya era digital yang lebih akrab dengan generasi micin, semua harus serba instan tengah marak diperbincangkan. Terlebih kini Organisasi Muhammadiyah merasa terlambat dalam mengenal digital padahal Organisasi Muhammadiyah cukup bagus dalam hal pendidikan. Hal ini di akui oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Prof.Dr.Dadang Kahmad, M.Si, mengatakan, ” Di Era Digital Muhammadiyah tidak begitu me respon karena jamaah tablig banyak di usia saya. Tidak sepesat dari salafi dan ahlussunah wal jamaah. Fatwa keagamaan menjadi keprihatinan saya. Bersyukur antum tertarik memperbincangkan ini. Melalui wajah baru Muhammadiyah Digital “Jalan Dakwah Virtual Muhammadiyah” yang berlangsung secara virtual, di Jakarta, Kamis, (3/12/2020)

Prof. Dr. Dadang menilai, “keberagaman generasi milenial, bersifat nasionalis yang bicara tokoh-tokoh idola, mereka hanya mengenal individu tidak mengenal lembaga nya (organisasi), ini menarik karena kita baru bermain di dunia digital.

“Kalau kita Muhammadiyah tidak punya kesadaran tinggi maka kita akan ketinggalan satu generasi, Generasi Z akan sedikit tertarik dengan Muhammadiyah, selama Muhammadiyah tidak merubah cara berdakwahnya, “jelas Prof Dadang

Menoleh aset yang dimiliki Muhammadiyah, pasalnya Muhammadiyah punya pusat SDM yang ada di Jogja, ” ini bisa di gunakan untuk dakwah melalui cyber ada website nya, dan sebagai panduan ada fiqih informasi dan ada panduan jamaah Muhammadiyah sebaik mungkin, ini menjadi panduan yang bagus. Anak muda yang mengerti, menjadi organisasi yang modern adaptif dengan perkembangan zaman. Saya khawatir di akhir abad akan ketinggalan, bila tidak di segerakan. Buat kaum muda, tidak berhenti beradaptasi, selalu berfikir kreatif, adaptif dan berinofasi melakukan hal-hal yang baru.

Sementara itu, Sejarawan Muda Muhammadiyah, Azrohal Hasan, M.Hum, mengungkapkan, “Madrasah digital kita harus diberikan apresiasi, sebuah gerakan digital untuk kaum milenial. Dengan demikian anak muda akan tahu bagaimana anak muda sekarang menyikapi peristiwa masa lalu tidak akan terulang kembali. Ada beberapa materi, kilas balik Sejarah Muhammadiyah bukan proses yang instan berbeda dengan milenial yang identik serba instan biasa dibilang generasi micin.

Menurut Azrohul, “Orang awam menilai Muhammadiyah itu sekolah mahal, sekolah bagus bagus, sehingga butuh banyak refleksi baik secara organisasi maupun lembaga pendidikan sebagai ujung tombak. Mengulik lebih jauh, saya tergugah untuk datang ke Jogja untuk mengonsultasikan naskah menolong kesejahteraan umat. Naskah ini menjadi kajian Muhammadiyah sebagai lembaga membangun masyarakat di tengah padang pasir yang bisa memberikan kehidupan namun setiap orang menggunakannya tidak boleh merubah apa yang sudah di terapkan di lembaga tersebut. ”

“Belum lagi ada beberapa Muhammadiyah yang harus melampirkan Anggota Muhammadiyah, Muhammadiyah ini kan, untuk visi kemanusiaan muhammadiyah harus membantu, Ketika kita bicara ideologis Muhammadiyah adalah konsep dakwah sebuah gerakan ideologis gagasan awal muhammadiyah. Sejak itu ide tersebut sudah muncul.

Pada kesempatan yang sama, Budayawan, Kusen, PhD, membeberkan Muhammadiyah dalam perspektif seni dan budaya. Muhammadiyah itu lembaga budaya tapi miskin kebudayaan. Muhammadiyah telah meminggirkan antara Muhammadiyah dengan seni dan budaya, padahal kita sebagai lembaga organisasi. Ada kesan Muhammadiyah itu anti budaya anti kesenian, sebagian menyadari langkah kita salah. Padahal Budaya Jawa mati bukan karena Muhammadiyah tetapi karena tehnologi.

Kusen mengamati Perkembangan Muhammdiyah dalam konteks seni dan budaya, payah. Terlebih dalam konteks modern, mati. Memangnya masih ada seni budaya di perserikatan kita (Muhammadiyah).?

Sebagian Pengurus Muhammadiyah telah gagal mendudukan agama dan budaya. Hubungan agama dan budaya di perserikatan Muhammadiyah telah gagal. Karena selama ini Muhammadiyah anti budaya anti kesenian. Padahal suatu kewajiban tidak akan mencapai sempurna bila tidak ada yang mendukung. Seperti halnya pergi haji ajaran islam, apakah ada sempurna menjadi wajib bila tidak ada yang mendukung. Yang mendukung adalah mengadakan kain sebagai budaya, ajaran agama adalah perintahnya. Begitu pula transportasi, kalau dulu jalan kaki, tetapi saat ini ada kapal ada pesawat. Misal saja sholat, harus mengadakan pakaian, pakaian dari luar ternyata yang mengadakan kain dalam hal ini adalah dari China. Begitu juga yang mengadakan air dari Aseng dari China. Lalu Pabrik kertas yang membuat aseng dan asing, kok kenapa malah di usir? Ini keliru.

“Meneladani Tokoh Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Kecerdasan Ahmad Dahlan bukan untuk membangkang, tetapi untuk membangun masyarakat,”tuturnya

Budayawan, Kusen PhD juga mengajar sebagai Dosen di UIN dan STAI Thawalib, memaparkan, “Melihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini, umat Islam sangat rentan dengan mudahnya terprovokasi dengan sosok HRS. Ini juga karena digital dengan mudahnya, dengan cepatnya informasi itu sampai dan masyarakat pun bisa langsung bergerak. Ini yang dilihat adalah sosok orang bukan lembaga nya. Kalau Muhammadiyah lembaga untuk membangun masyarakat, sementara sosok HRS untuk menghancurkan Rezim.

“Saya menilai HRS dan FPI telah gagal memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Pemahaman HRS total salah/keliru. Dalam konteks budaya, agama itu akal maka bila tak beragam maka tak berakal. Budaya itu, budi dan daya. Orang yang menggunakan digital bila tidak berkreasi itu bodoh. Dan agama tidak bisa dipisahkan dari budaya, Kaitan dengan kesenian aja gagal apalagi kebudayaan. HRS Gagal faham, bila kita fahami seruan Allah SWT, hendaklah kamu menyerukan islam dan hendaklah ber amar ma’ruf nahi munkar. Perintah ada bila ada hubungan dengan kekuasaan, kalau tidak ada hubungan kekuasaan maka itu tidak ada. Siapa yang memberikan mandat amar ma’ruf nahi munkar?. Amar ma’ruf nahi munkar, hanya akan berjalan kalau ada kekuasaan. Pun ajakan Nabi Muhammad SAW untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar juga dilakukan dengan dengan cara yang baik. Pertanyaan nya, Siapakah yang memerintahkan HRS ? tidak ada. Jadi HRS gagal memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar, “beber Kusen

“Jadi bila membandingkan Muhammadiyah dan HRS itu tidak level, kita tidak butuh. Muhammadiyah gerakan orang cerdas, kelas kita kelas beda bukan kelas gerombolan. Muhammadiyah jalur yang benar sedangkan HRS jalur keliru. Kalau Pemikiran Muhammadiyah, fitrah manusia itu bermasyarakat. Rasulullah tidak pernah memboikot, karena memboikot bukan ajaran islam. Itu contoh orang kafir dan orang jahiliah. Cukuplah tokoh yang bagus itu Ahmad Dahlan, kita ga butuh tokoh influencer, institusi itu harus saling mendukung, saling mengisi.( Suwarsih)

Related For Kusen PhD : Sebagian Pengurus Muhammadiyah Gagal Mendudukan Agama dan Budaya,